Sabtu, 01 Maret 2014

INDONESIA DAN KONTES KECANTIKAN

Kalo ngomongin soal kontes kecantikan, pasti semua langsung tertuju pada acr talent show miss universe, miss world, miss Indonesia, dsb. Yak acr talent show yg intinya mencari seorang wanita yg memiliki 3B yakni brain, beauty dan behavior lebih di antara lainnya ini emg udh sering diadakan diseluruh penjuru dunia bahkan di Indonesia.

Tentunya masih segar dlm ingatan waktu pagelaran miss world beberapa waktu yg lalu yg diadakan dibali namun sempat menuai protes keras. Disini gue cm pengen share aja sedikit alasan kenapa sih kok ajang kyk beginian selalu dpt protes dan juga beberapa pendapat yg tidak cukup kuat untuk menolak ajang kontes kecantikan ini.

Alasan penolakan :
1. kontes kecantikan adalah ajang pamer aurat
Oh iya..??? ciyuusss?? Miapah???
Maksudnya ajang pamer aurat itu model – model kontes bikini gitu yak? Mungkin aja emg iya kalo itu diadakan diluar Indonesia. Karena ini kn emg bagian dr budaya barat. Dan dgr2 emg dlm salah satu sesi penilaian semua peserta diwajibkan berbikini. Tapi tenang. Hal itu gak akan terjadi kalo diadakan di Indonesia karena dr ajang miss world kmrn PANITIA DAN PEMDA BALI UDAH BOLAK – BALIK KONFIRMASI BAHWA GAK ADA KONTES BIKINI di sini, so beres kan??
Masih mau protes soal aurat – mengaurat meskipun gak ada kontes bikini? Mau bilang kalau niat nutup aurat maka kontes bikini harusnya semua pakai Burqa gitu? To be fair kalau begitu harusnya anda menuntut semua stasiun televisi dibubarkan karena tidak stasiun TV yang acaranya menggunakan standar “moral” demikian.
Atau solusi lebih mudah, bagaimana kalau anda jual saja TV anda biar tidak repot? Hihihi

2. Kontes Kecantikan Adalah Ajang Eksploitasi Wanita
Apanya yang dieksploitasi? Sebelum membahas lebih jauh, gue tanya dulu deh, apa sih bedanya dengan kontes bakat lainnya, misalnya Indonesian Idol atau JKT48 gitu?
Ya, kontes kecantikan ini sesederhana kontes bakat saja, tidak ada bedanya dengan Indonesian Idol, bedanya Indonesian Idol yang dilihat kemampuan bernyanyi, ini yang dilihat adalah kecerdasan (brain), kecantikan (beauty) dan sikapnya (behaviour).
Jadi jika anda bicara bahwa kontes kecantikan mengeksploitasi kecantikan wanita demi meraup Dollar dan kepentingan bisnis organisasi kontes kecantikan, ya dengan standar yang sama berarti Indonesian Idol mengeksploitasi kemampuan bernyanyi para pesertanya dan anda gak protes kan tentang Indonesian Idol?
Kenapa coba kalian gak protes?
Karena kalian menyukainya?
Terus kalau ada orang lain sukanya sama kontes kecantikan gak boleh gitu?
Semua orang seleranya harus sama dengan kalian?
Terus kalau anda gak suka sama JKT48 nanti kalau mereka konser lagi kalian mau demo lagi gitu nolak konser JKT48?

3. Kontes Kecantikan Merendahkan Wanita
Atau versi lengkapnya “Kontes Kecantikan merendahkan wanita yang tidak sesuai sama standar Kontes Kecantikan”.
Sesuai yang gue tulis di atas, Kontes Kecantikan dan sebangsanya mengklaim bahwa mereka menilai seorang wanita dari 3 hal, yaitu brain, beauty dan behavior, nah lantas kalau begitu apa kabar nasibnya wanita yang tidak cerdas, tidak cantik, maupun tidak santun?
Dengan adanya kontes semacam Kontes Kecantikan ini yang mengkampanyekan standar penilaian wanita sebagai 3 hal tersebut, maka wanita yang tidak cerdas, cantik maupun santun akan dinilai sebagai warga kelas dua di masyarakat dong?
Kalau sudah begitu, lantas bagaimana dengan karakter – karakter lain yang sebetulnya juga baik untuk dimiliki seorang wanita tapi tidak masuk ke 3 kategori itu? Kasihan kan wanita – wanita itu jadi dipandang rendah hanya karena mereka tidak cerdas, cantik maupun santun, padahal mereka itu sebetulnya patuh pada orang tua, peduli lingkungan, taat hukum dan rajin menabung?
Oke, untuk bagian ini kita bagi 2 deh, pertama: apakah menurut kalian kecerdasan, kecantikan dan sikap bukanlah kualitas dari seorang wanita?
Yakin anda wanita cerdas gak patut dihargai?
Yakin anda wanita wanita santun gak patut dihargai?
Dan tentu saja:
Yakin anda wanita cantik gak patut dihargai?
Nah ini agak ribet nih, ini sebetulnya salah satu point yang paling banyak diprotes orang, konon katanya kapitalisme telah menjual image kecantikan sebagai nilai tertinggi dari harga diri seorang wanita.
Tapi yakin dunia ini jadi begini hanya karena kapitalisme?
Yakin manusia di masa lalu sebelum era kapitalisme tidak menilai kualitas utama perempuan dari fisiknya?
Pernah dengar mitologi Yunani soal Medusa?
Sebelum dikutuk menjadi monster berambut ular, Medusa adalah seorang pendeta wanita cantik penjaga kuil Athena. Ia wanita yang selain cantik, juga cerdas dan sangat taat kepada Athena sebelum akhirnya Ia diperkosa oleh Poseidon karena menolak cintanya.
Pertanyaannya adalah, memangnya Poseidon jatuh cinta pada Medusa karena dia cerdas? Atau karena dia taat? Ya jelas tidak, satu – satunya alasan Poseidon jatuh cinta pada Medusa adalah karena kecantikannya. Jadi budaya dimana kita menilai seorang wanita dengan menitik beratkan pada fisiknya saja.
Tidak usah jauh – jauh, awal abad ke 20 masyarakat barat masih menganggap tidak sopan seorang wanita yang mengomentari urusan politik atau ekonomi, jadi jangankan kecerdasannya dihargai, menunjukkan kecerdasan saja dianggap tidak sopan, apa lagi yang mau dinilai dari seorang wanita dalam budaya seperti itu kalau bukan semata – mata kecantikannya?
Jadi kalau menurut saya, Miss World ataupun kontes kecantikan manapun sebetulnya tidak merendahkan wanita manapun, budaya kita memang sudah ribuan tahun menganggap wanita sepele kok, lihat saja bagaimana Taliban menembak seorang anak kecil wanita hanya karena Ia ingin cerdas, kurang meremehkan apa lagi dunia kita terhadap kaum wanita?
Kebudayaan kita seratus tahun terakhir memang perlahan mulai bersahabat kepada wanita, namun memang belum seutuhnya berpihak secara fair bagi pria dan wanita, dan saya rasa Miss World, Miss Universe ataupun Putri Indonesia dan sebangsanya jelas bukan sebuah faktor yang justru memundurkan usaha tersebut bukan? Jadi dimana masalahnya?

4. Apa kata dunia kalau sampai tahu Indonesia menyelenggarakan event Kontes Kecantikan?
Apa coba?
Seriusan gue beneran nggak tau.
Apakah reaksi kita berubah kepada Cina ketika mereka menyelenggarakan Miss World tahun lalu? Atau apakah reaksi kita berubah kepada Turki ketika mereka memenangkan Miss World tahun 2002? Lantas bakal bagaimana reaksi dunia? Dan “dunia” yang anda maksud itu siapa? Negara – negara Asia? Amerika? PBB?

5. Kontes Kecantikan tidak sesuai dengan budaya timur
Ini gue setuju sekali, karena dalam budaya timur memang seharusnya wanita itu cukup menjadi pajangan suami saja, tidak perlu ikut kontes – kontesan semacam ini.

Menurut gue, Terlepas dari itu semua, mungkin bersikap bijak itu akan lebih baik daripada hanya Cuma saling protes dan berdebat. Bijak dalam memilah2 mana yg baek dan mana yg tidak. istilahnya semacam filter alias penyaring gitu lho *bingung membahasakannya*. Toh gak semua budaya barat itu mengandung unsur negative semua. Dan Sisi positif dari ajang kecantikan yang pernah diadakan di Indonesia ialah bisa lebih mengenalkan Indonesia di kancah Internasional.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar